Bedah Buku : CRACKING ZONE (Rhenald Kasali)

Andre Wiguna Labour 01-Apr-2016 17:28

Jenis buku                               : Fiksi

Judul buku                              : CRACKING ZONE

Nama pengarang                     : Rhenald Kasali

Nama kota dan penerbit          : Jakarta, PT Gramedia PustakaUtama

Tahun terbit                             : 2011

Jumlah halaman                       : 356 halaman

Reviewer                                 : Andre Wiguna (H24140025)

 

“Bagaimana Memetakan Perubahan di Abad ke-21 & Keluar dari Perangkat Comfort Zone”

 

            Itulah kalimat awal yang menjadi pembuka di buku karangan Rhenald Kasali ini. Buku cetakan tahun 2011 ini telah menjadi salah satu buku wajib bagi mahasiswa dan beberapa CEO perusahaan di Indonesia. Kemampuan menulis yang logis dan  pemahaman ide-ide yang penuh analisis disampaikan dengan bahasa yang ringan lagi dimengerti untuk semua kalangan, tidak hanya kalangan CEO dan profesional saja, melainkan juga masyarakat awam termasuk mahasiswa.

            Sebelum membaca buku ini, pembaca mungkin saja akan terheran-heran bahkan terlihat bingung dengan judul buku “CRACKING ZONE”, namun melalui kalimat di atas, pembaca seharusnya sudah bisa mengambil kesimpulan awal bahwa buku ini akan membahas berbagai bentuk perubahan radikal yang terjadi di abad ke 21, tidak hanya di dunia pada umumnya, tetapi juga di Indonesia. Secara tak sadar, perubahan-perubahan radikal ini telah memengaruhi kalangan masyarakat di semua level strata sosial, baik keyakinan, psikologis, gaya hidup, maupun tatanan kehidupan dalam bermasyarakat. Perubahan ini bisa menjadi celah berharga bagi pelaku bisnis di dunia dan Indonesia, terutama industri telekomunikasi dan informasi. Perubahan ini tentu akan  berbuah manis jika disikapi secara bijak dan oportunis. Betapa tidak, celah-celah yang timbul sebagai akibat perubahan radikal ini telah membuka berbagai kesempatan baru yang menjanjikan bagi kelangsungan industri ke depannya, bahkan mampu menciptakan segmentasi baru yang belum pernah teridentifikasi sebelumnya. Pada perjalanannya, hanya para “Crackers” lah yang mampu mendobrak celah-celah radikal itu, karena sesungguhnya “Crackers” adalah orang yang mampu mengubah haluan industri dan wajah bisnis Indonesia di masa depan

            Adapun pemimpin salah satu industri telekomunikasi di Indonesia yang menjadi objek utama dalam penulisan buku ini adalah CEO XL Hasnul Suhaimi yang telah memimpin XL dan berhasil membawa perusahaan milik TM International ini menjadi Perusahaan Operator Seluler Terbaik nomor 2 di Indonesia. Rhenald Kasali, di dalam buku ini, menyebutkan bahwa Hasnul Suhaimi adalah salah satu sosok “Crackers” sejati yang mampu menggoyahkan kenyamanan posisi rivalnya, yaitu Telkomsel dan Indosat yang berada di posisi dua teratas operator seluler di Indonesia melalui penerapan tarif layanan suara (telepon) Rp 1/detik. Penerapan layanan ini ternyata mampu meningkatkan durasi telepon masyarakat Indonesia yang tadinya berada di bawah India. Sepak terjang Hasnul Suhaimi tidak hanya sampai di situ saja. Demi menghindari  penumpukan layanan telepon yang terjadi akibat pemangkasan tarif layanan suara, Hasnul, sejak jauh-jauh hari, telah membangun menara jaringan tambahan di beberapa titik tersebar di berbagai pulau di Indonesia.

Ada banyak hal yang membuat saya tertarik untuk mendalami berbagai macam pengaruh perubahan-perubahan radikal yang pada akhirnya menjadi celah oportunis bagi sejumlah pemimpin perusahaan di Indonesia, khususnya perubahan pada gaya hidup masyarakat dunia dan Indonesia yang kini berorientasi pada sistem informasi berbasis digital. Perubahan ini tidak hanya memengaruhi segmentasi dari strata sosial tertentu saja, melainkan semua lapisan masyarakat. Perubahan ini secara signifikan dapat dilihat dari meningkatnya pengguna telepon genggam yang terhubung ke jaringan internet. Sekarang ini, kita tidak perlu heran jika menemukan pedagang sayur keliling yang menggunakan telepon genggam pribadinya untuk memberitahukan produk yang dijual kepada para pelanggan setianya. Tidak hanya itu, perubahan radikal ini juga memberikan warna baru pada perkembangan beberapa media sosial di internet, seperti Twitter. Ternyata, kini ada satu tren baru yang muncul di tengah-tengah pengguna media sosial ini, yaitu Kultwit alias Kuliah Tweet. Jumlah follower yang kian meningkat dimanfaatkan oleh beberapa selebritis Indonesia untuk turut serta memberikan dan membagikan ilmu nya diberbagai topik pada khalayak ramai.

Hal-hal seperti inilah yang membuat perubahan radikal ini menjadi suatu peluang yang menguntungkan bagi para “Crackers”. Peluang yang tercipta mungkin saja kecil dan beresiko, namun jika ditanggapi dengan penuh kehati-hatian dan analisis logis, perubahan ini bisa memberikan suatu dobrakan baru bagi pelaku bisnis di Indonesia terutama pelaku bisnis yang berbasiskan industri telekomunikasi, meingat tren digital masyarakat Indonesia yang kian menjanjikan di masa depan.


Leave a Comment:


 Archive


   Magazine


   Contact Us