Bedah Buku : AGILITY "Bukan SInga yang Mengembik" (Rhenald Kasali)

Eruniva Syabani Organization Development 01-Apr-2016 17:23

Ungkapan “Seratus kambing yang dipimpin oleh seeor singa akan jauh lebih berbahaya ketimbang seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing.” menunjukkan agility sangat diperlukan dalam setiap diri manusia untuk dapat berkontribusi menghasilkan inovasi dan keunggulan-keunggulan baru. Kita perlu perubahan dengan kepemimpinan setangkas singa. Agility (the power of moving quickly and easily) berarti terdapat unsur manusia dengan mentalitas pemenang di dalamnya. Whether you are a deer or a lion, you have to run fast to survive. Portfolio agility adalah ketangkasan menggeser sumber daya yang dimiliki dalam satu unit usaha.

Tiga dimensi personal agility, yaitu intellectual agility, emotional agility, dan physical agility. Myelin merupakan bagian dari agility. Myelin berhubungan dengan brain memory yang terbentuk dari pengetahuan dan muscle memory yang terbentuk karena kita telah terbiasa melakukan sesuatu/berlatih. Kualitas myelin menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi. Untuk merawat myelin, membangun agility maka seseorang harus kerja spartan, memberikan pertanyaan-pertanyaan reflektif, above the limits, semangat untuk bisa, sikap afiliatif, kerja tim, serta berpikir out of the box dan kreatif untuk menciptakan inovasi.

Di era ekonomi kecepatan ini salah satu permasalahan dalam negeri yang sangat memerlukan agility adalah permasalahan bandara disebabkan oleh hambatan dari luar, kualitas SDM, teknologi, keterbatasan pasar, dan adanya ketidakpastian sehingga peran agility menjadi sangat diperlukan. Krisis menuntut pengambilan keputusan secara cepat dan tegas. Padahal Indonesia mempunyai dua agenda besar mengenai bandara: ASEAN Open Sky tahun 2015 dan memiliki World Class Airport tahun 2016. Aplikasi dan pengelolaan teknologi informasi yang baik merupakan kunci perusahaan kelas dunia.

Ketika lingkungan bisnis berubah, perusahaan harus segera merestrukturisasi organisasinya agar mampu menjawab perubahan tersebut, salah satunya dengan membangun struktur organisasi yang High Performing Customer-Centric. Pencapaian kinerja menjadi pegangan perusahaan dalam memberikan apresiasi dan sanksi.

Faktor-faktor kunci agar perusahaan dapat bangkit kembali adalah dengan membangun sense of crisis dan sense of urgency, menolak perilaku menyangkal, peran pemimpin, dan berani melakukan the burning platform.

 

 


Leave a Comment:


 Archive


   Magazine


   Contact Us