HOSPITAL BEYOND BOUNDARIES “Empowering The Community Through Social Bussiness”

Yuni Eka Putri Labour 15-Sep-2015 12:40

Lutfi Fadil Lokman

Berada di antara masyarakat kurang mampu di Bandung selama 3 tahun membuat Lutfi Fadil Lokman, pemuda asal Malaysia kelahiran 24 Oktober itu tertarik pada pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin. “In Indonesia, I lived among poor comunities of Bandung and I saw things I wouldn’t have been able to imagine if I hadn’t lived there, so that got me interested in the healthcare of the poor” tuturnya. Ketertarikannya pada kesehatan masyarakat global semakin meningkat setelah ia memenangkan Public Speaking Competition sebagai perwakilan dari Universitas Padjadjaran dalam acara Harvard University Model United Nation pada tahun 2009 di Boston, US. Sejak saat itu ia belajar lebih dalam mengenai kesehatan global, pengobatan yang terkait dengan pelayanan kesehatan masyarakat kurang mampu dan mulai mempresentasikan data statistik dan paper dalam konferensi nasional maupun internasional.

Namun, setelah kembali ke malaysia, dr. Lutfi mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan dengan lurus dan mengalami masalah pada pendengarannya. kejadian tersebut membuatnya begitu depresi dan tergerak untuk memulai sesuatu, tidak hanya mempresentasikan data statistik dan membuat paper. Akhirnya pada tahun 2012 ia dan seorang temannya membentuk sebuah NGO yang diberi nama Hospital Beyond Boundaries (HBB) . HBB tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan. Membangun rumah sakit membutuhkan aspek bisnis, hukum dan arsitektur. Dr. Lutfi berpendapat bahwa membangun sebuah rumah sakit merupakan cara yang mungkin untuk menghentikan kemiskinan dengan menyertakan dan membangun komunitas, sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar melalui upaya pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

 

Poverty and Illness always come hand in hand, tackling one solve the other

   Saat ini, HBB tidak hanya berada di Malaysia tetapi juga di Kamboja. Beliau memilih membangun rumah sakit di Kamboja setelah melakukan pendekatan dengan salah satu anggota Cham yang datang ke Malaysia menggalang dana untuk komunitasnya. Orang Cham Kamboja merupakan etnis minoritas yang hanya berjumlah 1,6% dari seluruh total populasi di Kamboja. 87% populasi dikamboja masih berada di bawah garis kemiskinan. Menjadi etnis minoritas di tengah masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, tidak hanya menyebabkan etnis Cham mengalami masalah ekonomi, namun juga tekanan sosial. Pada tahun 1975 – 1979 etnis Cham sangat menderita dibawah rezim Khmer Rogue (KR). “ The KR regime disproportionately targeted ethnic minority groups with as much as half of the Cham population (estimated around 500.000 people) killed.” jelasnya. Saat ini, setelah lebih dari 20 tahun rezim KR berakhir, sebagian besar masyarakat Cham masih tetap mengalami masalah ekonomi dan kurangnya peluang untuk memperoleh pendidikan serta kesehatan. Etnis Cham memiliki budaya yang unik, praktik keagamaan, serta nilai yang berbeda dari populasi di Kamboja pada umumnya. Kamboja masih sangat bergantung pada bantuan luar negeri dalam hal pelayanan kesehatan. “ Most of the hospitals bulit by foreign NGOs lacks cultural competence when treating an ethnic minority. This situation present a barier to quality care delivery which ultimately leads to healthcare disparities”. Oleh karena itu, HBB memiliki tujuan untuk mengurangi perbedaan nilai dan budaya antara pasien dengan rumah sakit.

            Di negara berkembang seperti Kamboja, kesenjangan sosial ekonomi antara orang kaya dan orang miskin sangat besar, meskipun berada di lokasi yang sama. Hal tersebut membuat HBB sebagai non profit organization menggunakan sistem subsidi silang dalam sistem pembayaran di rumah sakit tersebut. Keuntungan dari setiap 3 pasien yang berkonsultasi dan berobat, akan digunakan untuk mensubsidi satu pasien yang tidak mampu.

            Berbeda dengan rumah sakit pada umumnya. HBB merekrut karyawan dari komunitas yang mereka bantu, meskipun sebagian besar tidak memiliki latar belakang di bidang kesehatan. “our goal is to empower the community by providing them employment at the hospital as comunity healthcare worker trained as birth attended” jelas dr. Lutfi. Penyertaan masyarakat lokal dalam perawatan pasien akan membantu memudahkan menghadapi kesulitan yang muncul di komunitas tersebut, seperti biaya transportasi, budaya dan kepercayaan, stigma sosial, diskriminasi dan kekurangan informasi.

HBB juga memiliki program dengan nama “Passport Program”, yang merupakan program training untuk para volunteers di HBB Centre For Global Health. HBB menerima volunteers dari berbagai background pendidikan untuk kemudian dilatih dengan menggunakan training model yang terstruktur. Setiap volunteer yang sudah mendaftar akan diberikan HBB Passport Booklet yang berisi modul pelatihan. Setiap pelatihan yang telah selesai diikuti akan diberi cap. Pelatihan yang diberikan pada program ini yaitu Basic Life Support (BLS), Basic Health Screening (BHS), public speaking for cause advocation, proposal writing skills, finance management and marketing for non-profits. Program pelatihan ini memiliki 3 level, yaitu DreamerLevel, AdventureLevel, dam Trailblazer. Persyaratan minimun yang diperlukan bagi volunteers agar dapat mengikuti kegiatan HBB selain di Malaysia adalah telah mencapai level 2 (AdventureLevel). Sedangkan level 3 (Trailblazer) merupakan minimun perysratan untuk dapat melamar sebagai pegawai tetap di HBB. Pemilihan volunteer juga dilakukan melalui media sosial yaitu Facebook, karena target HBB merupakan generasi muda dan hampir 70% pemuda di Malaysia menggunakan Facebook.

            Dr. Lutfi berharap bahwa generasi muda saat ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin masa depan, namn menjadi pemimpin saat ini. Jika kalian memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dapat meubah hidup kita atau orang lain, tidak peduli besar atau kecil, lakukanlah hari ini. Mulailah selagi kita masih muda, dan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. “life can be too short to study everything, before you started something.

-Yuni Eka Putri-


Leave a Comment:


 Archive


   Magazine


   Contact Us