MENGENAL KEPEMIMPINAN WANITA; ANTARA KARIR DAN KELUARGA

Ruwanti Eka Rahayu Human Resources 14-Sep-2015 21:16

Gerakan emansipasi wanita yang mendunia memberikan ruang gerak yang lebih bebas pada wanita untuk mencapai cita-citanya baik dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya atau terus maju tanpa rasa takut untuk berkarier. Tahukah anda Marissa Mayer CEO wanita yang memimpin salah satu perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Yahoo, atau Virginia Rometty yang terpilih menjadi CEO pertama IBM? Mereka adalah contoh dari segelintir nama yang masuk jajaran CEO wanita terbaik dunia versi Fortune 500 karena keberhasilannya dalam memimpin perusahaan dan mampu membuat perusahaan yang dipimpinnya melewati masa-masa sulit dan mencapai kesuksesan.

Mencapai puncak karier sebagai pemegang posisi tertinggi di perusahaan bukanlah hal yang mudah. Selain dituntut untuk memiliki kemampuan pemimpin yang baik, pemimpina juga bertanggung jawab penuh terhadap perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah yang sering menjadi hambatan besar bagi wanita untuk mencapai posisi puncak karena dianggap sangat beresiko. .Efektivitas pemimpin ditentukan oleh kemampuannya dalam mempengaruhi dan mengarahkan anggotanya dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.. Pada pandangan tradisional, wanita indentik dengan sosok yang lemah sedangkan pria dipandang sebagai sosok yang kuat sehingga dianggap jauh lebih cocok menjadi pemimpin.

            Pada perkembangannya yang menjadi fokus utama untuk menjadi seorang pemimpin di era globalisasi seperti saat ini adalah kompetensi dan performance sehingga gender tidak lagi menjadi faktor pembeda yang dominan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Accurance dalam the-marketeers.com menyebutkan bahwa sekitar 60 persen responden di Indonesia berharap wanitalah yang pantas menjadi CEO atau jabatan lainnya pada tahun 2020. Hal ini dikarenakan keuletan pimpinan perusahaan merupakan kunci utama dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Hasil survey menunjukkan bahwa wanita lebih memiliki kemampuan itu dibandingkan pria.

            Hasil penelitian Shaskin&Shaskin (2011), dalam bukunya menyatakan bahwa dari 4000 CEO wanita dan CEO pria yang mengisi kuesioner The Leadership Profile (TLP) menemukan hanya sedikit perbedaan antara kepemimpinan transformasional CEO/Eksekutif pria dan wanita. Para CEO wanita cenderung menunjukkan rasa hormat dan kepedulian yang lebih besar terhadap orang lain sehingga pemimpin wanita bertindak secara berbeda dan lebih efektif daripada pria dalam memimpin. Hasil kajian Caliper yang tertulis di majalah Female 2013, yaitu ciri wanita yang memimpin dengan semangat kerja tim, pemimpin wanita yang hebat cenderung menerapkan gaya kepemimpinan secara komprehensif saat harus menyelesaikan masalah atau membuat keputusan. Mereka lebih fleksibel, penuh pertimbangan, dan membantu stafnya. Gibson (2000) mengemukakan bahwa sebagian besar perempuan memiliki dimensi perilaku yang cenderung memikirkan kesejahteraan bawahan dan lebih menekankan interaksi dan memfasilitasi bawahan. Kajian yang dilakukan oleh Sasmita&Raihan (2014) menyatakan bahwa walaupun ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan di antara pria dan wanita, namun keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan wanita dan pria merupakan hal yang saling mengisi. Pentingnya wanita mengubah mindsetdengan cara lebih menyadari bahwa dirinya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi seorang pemimpin di tempat bekerja.

            Berbagai hasil kajian dan penelitian mulai menunjukkan bahwa kepemimpinan pria dan wanita tidak menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Bahkan dalam beberapa aspek wanita lebih unggul dibandingkan pria dalam memimpin. Namun hingga kini perempuan yang menduduki posisi puncak masih sangat sedikit, hal ini diduga karena wanita banyak yang memilih berhenti berkarir saat mereka memutuskan untuk mengurus rumah tangga yang sudah menjadi kewajibannya.

Dinamika wanita karir di dunia professional menjadi suatu hal yang menarik untuk dikaji karena saat ini angkatan kerja antara pria dan wanita belum seimbang. Begitu sampai tingkat manajerial jumlahnya merosot menjadi 20%, dan hanya menyisakan 5% wanita saja di tingkatan CEO. Biasanya semakin tinggi posisi dalam organisasi, semakin sedikit pula wanita yang menjabatnya. Sangat sedikit wanita yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk mendaki ke posisi puncak organisasi dan menjadi sukses. Sementara itu, karena alasan keluarga dan fleksibilitas waktu, 72% wanita karier memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan, 40% di antaranya memutuskan keluar di awal karier (Sasmita dan Raihan, 2014). Padahal, wanita yang memegang posisi pemimpin di sebuah perusahaan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

            Isu terkait gender dalam kepemimpinan perempuan menjadi hal yang banyak diperbincangkan. Tugas utama seorang wanita adalah mengurus kehidupan rumah tangganya (keluarga). Namun di sisi lain, seorang wanita berhak atas karir dan passionnya untuk mengembangkan diri sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara itu, karena alasan keluarga dan fleksibilitas waktu, 72% wanita karier memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan, 40% di antaranya memutuskan keluar di awal karier (Sasmita dan Raihan, 2014). Faktanya, saat ini ada sekitar 5 persen wanita yang berhasil menjadi CEO dan mengembangkan perusahaan yang dijalankannya dengan sukses.

            Seorang wanita yang memutuskan untuk berkarir dan menjadi seorang pemimpin suatu perusahaan akan dihadapkan pada konflik peran ganda. Ketiga wanita hebat yang dipaparkan diatas, menjalani dua peran sekaligus yaitu sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai seorang ibu rumah tangga. Menurut Suryadi (2004) dikutip dari Diansari (2006), menjalankan dua peran sekaligus secara tidak langsung memberikan dampak baik bagi wanita itu sendiri maupun bagi lingkungan keluarganya. Wanita dengan peran ganda dituntut untuk berhasil dalam dua peran yang bertentangan. Di rumah mereka dituntut untuk berperan subordinat (memiliki kedudukan dibawah peran suami) dalam menunjang kebutuhan keluarga dengan mengurus suami dan anak namun di tempat kerja mereka dituntut untuk mampu bersikap mandiri dan dominan sebagai seorang pemimpin. Konflik peran ganda seorang wanita yang memutuskan untuk berkarir akan terselesaikan bila mendapat dukungan penuh dari keluarganya yang mengerti keinginannya sehingga dukungan keluarga menjadi critical success factor terpenting dalam pencapaian keberhasilan wanita menjadi pemimpin. Pernyataan ini selaras dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Jones & Jones dikutip dari Apollo dan Cahyadi (2012) bahwa sikap suami merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dual-career marriage. Ada suami yang merasa terancam, tersaingi dan cemburu dengan status pekerjaan istrinya, ada yang tidak menganggap pekerjaan istri menjadi masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan suami.

            Wanita bisa berhasil dalam memimpin saat bisa menyeimbangkan perannya sebagai seorang wanita karier dan seorang ibu rumah tangga. Saat ini kita sudah dapat melihat mulai banyaknya wanita yang berhasil meraih posisi puncak yang dapat menjadi bukti keberhasilannya dalam menjalankan peran gandanya dengan menempuh karier namun tetap memiliki waktu untuk keluarganya.

 

 

Daftar Pustaka

Apollo, Andi Cahyadi. 2012. Konflik Peran Ganda Perempuan Menikah yang Bekerja Ditinjau Dari Dukungan Sosial Keluarga dan Penyesuaian diri. Widya Warta. 1(02): 254-270.

Everina Diansari. 2006. Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Pada Wanita dengan Aspirasi Karier [skripsi].Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Sashkin, Marshall, dan Molly G. shashkin. 2011. Prinsip-prinsip Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sasmita, Jumiati, dan Said Raihan.2014. Kepemimpinan Pria dan Wanita. Proceeding of The 6th NCFB and Doctoral Colloqium. Riau: Repository University of Riau. Hlm 225-239.


Leave a Comment:


 Archive


   Magazine


   Contact Us