HOSPITAL BEYOND BOUNDARIES “Empowering The Community Through Social Bussiness”

Yuni Eka Putri Labour 15-Sep-2015 12:40

Lutfi Fadil Lokman

Berada di antara masyarakat kurang mampu di Bandung selama 3 tahun membuat Lutfi Fadil Lokman, pemuda asal Malaysia kelahiran 24 Oktober itu tertarik pada pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin. “In Indonesia, I lived among poor comunities of Bandung and I saw things I wouldn’t have been able to imagine if I hadn’t lived there, so that got me interested in the healthcare of the poor” tuturnya. Ketertarikannya pada kesehatan masyarakat global semakin meningkat setelah ia memenangkan Public Speaking Competition sebagai perwakilan dari Universitas Padjadjaran dalam acara Harvard University Model United Nation pada tahun 2009 di Boston, US. Sejak saat itu ia belajar lebih dalam mengenai kesehatan global, pengobatan yang terkait dengan pelayanan kesehatan masyarakat kurang mampu dan mulai mempresentasikan data statistik dan paper dalam konferensi nasional maupun internasional.

Namun, setelah kembali ke malaysia, dr. Lutfi mengalami kecelakaan yang menyebabkan ia tidak bisa berjalan dengan lurus dan mengalami masalah pada pendengarannya. kejadian tersebut membuatnya begitu depresi dan tergerak untuk memulai sesuatu, tidak hanya mempresentasikan data statistik dan membuat paper. Akhirnya pada tahun 2012 ia dan seorang temannya membentuk sebuah NGO yang diberi nama Hospital Beyond Boundaries (HBB) . HBB tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan. Membangun rumah sakit membutuhkan aspek bisnis, hukum dan arsitektur. Dr. Lutfi berpendapat bahwa membangun sebuah rumah sakit merupakan cara yang mungkin untuk menghentikan kemiskinan dengan menyertakan dan membangun komunitas, sosial dan ekonomi di lingkungan sekitar melalui upaya pelayanan kesehatan yang berkelanjutan.

 

Poverty and Illness always come hand in hand, tackling one solve the other

   Saat ini, HBB tidak hanya berada di Malaysia tetapi juga di Kamboja. Beliau memilih membangun rumah sakit di Kamboja setelah melakukan pendekatan dengan salah satu anggota Cham yang datang ke Malaysia menggalang dana untuk komunitasnya. Orang Cham Kamboja merupakan etnis minoritas yang hanya berjumlah 1,6% dari seluruh total populasi di Kamboja. 87% populasi dikamboja masih berada di bawah garis kemiskinan. Menjadi etnis minoritas di tengah masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan, tidak hanya menyebabkan etnis Cham mengalami masalah ekonomi, namun juga tekanan sosial. Pada tahun 1975 – 1979 etnis Cham sangat menderita dibawah rezim Khmer Rogue (KR). “ The KR regime disproportionately targeted ethnic minority groups with as much as half of the Cham population (estimated around 500.000 people) killed.” jelasnya. Saat ini, setelah lebih dari 20 tahun rezim KR berakhir, sebagian besar masyarakat Cham masih tetap mengalami masalah ekonomi dan kurangnya peluang untuk memperoleh pendidikan serta kesehatan. Etnis Cham memiliki budaya yang unik, praktik keagamaan, serta nilai yang berbeda dari populasi di Kamboja pada umumnya. Kamboja masih sangat bergantung pada bantuan luar negeri dalam hal pelayanan kesehatan. “ Most of the hospitals bulit by foreign NGOs lacks cultural competence when treating an ethnic minority. This situation present a barier to quality care delivery which ultimately leads to healthcare disparities”. Oleh karena itu, HBB memiliki tujuan untuk mengurangi perbedaan nilai dan budaya antara pasien dengan rumah sakit.

            Di negara berkembang seperti Kamboja, kesenjangan sosial ekonomi antara orang kaya dan orang miskin sangat besar, meskipun berada di lokasi yang sama. Hal tersebut membuat HBB sebagai non profit organization menggunakan sistem subsidi silang dalam sistem pembayaran di rumah sakit tersebut. Keuntungan dari setiap 3 pasien yang berkonsultasi dan berobat, akan digunakan untuk mensubsidi satu pasien yang tidak mampu.

            Berbeda dengan rumah sakit pada umumnya. HBB merekrut karyawan dari komunitas yang mereka bantu, meskipun sebagian besar tidak memiliki latar belakang di bidang kesehatan. “our goal is to empower the community by providing them employment at the hospital as comunity healthcare worker trained as birth attended” jelas dr. Lutfi. Penyertaan masyarakat lokal dalam perawatan pasien akan membantu memudahkan menghadapi kesulitan yang muncul di komunitas tersebut, seperti biaya transportasi, budaya dan kepercayaan, stigma sosial, diskriminasi dan kekurangan informasi.

HBB juga memiliki program dengan nama “Passport Program”, yang merupakan program training untuk para volunteers di HBB Centre For Global Health. HBB menerima volunteers dari berbagai background pendidikan untuk kemudian dilatih dengan menggunakan training model yang terstruktur. Setiap volunteer yang sudah mendaftar akan diberikan HBB Passport Booklet yang berisi modul pelatihan. Setiap pelatihan yang telah selesai diikuti akan diberi cap. Pelatihan yang diberikan pada program ini yaitu Basic Life Support (BLS), Basic Health Screening (BHS), public speaking for cause advocation, proposal writing skills, finance management and marketing for non-profits. Program pelatihan ini memiliki 3 level, yaitu DreamerLevel, AdventureLevel, dam Trailblazer. Persyaratan minimun yang diperlukan bagi volunteers agar dapat mengikuti kegiatan HBB selain di Malaysia adalah telah mencapai level 2 (AdventureLevel). Sedangkan level 3 (Trailblazer) merupakan minimun perysratan untuk dapat melamar sebagai pegawai tetap di HBB. Pemilihan volunteer juga dilakukan melalui media sosial yaitu Facebook, karena target HBB merupakan generasi muda dan hampir 70% pemuda di Malaysia menggunakan Facebook.

            Dr. Lutfi berharap bahwa generasi muda saat ini tidak hanya memikirkan dirinya sendiri untuk menjadi pemimpin masa depan, namn menjadi pemimpin saat ini. Jika kalian memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dapat meubah hidup kita atau orang lain, tidak peduli besar atau kecil, lakukanlah hari ini. Mulailah selagi kita masih muda, dan memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. “life can be too short to study everything, before you started something.

-Yuni Eka Putri-



Read Post | Comment

MENGENAL KEPEMIMPINAN WANITA; ANTARA KARIR DAN KELUARGA

Ruwanti Eka Rahayu Human Resources 14-Sep-2015 21:16

Gerakan emansipasi wanita yang mendunia memberikan ruang gerak yang lebih bebas pada wanita untuk mencapai cita-citanya baik dalam menempuh pendidikan setinggi-tingginya atau terus maju tanpa rasa takut untuk berkarier. Tahukah anda Marissa Mayer CEO wanita yang memimpin salah satu perusahaan teknologi raksasa dunia seperti Yahoo, atau Virginia Rometty yang terpilih menjadi CEO pertama IBM? Mereka adalah contoh dari segelintir nama yang masuk jajaran CEO wanita terbaik dunia versi Fortune 500 karena keberhasilannya dalam memimpin perusahaan dan mampu membuat perusahaan yang dipimpinnya melewati masa-masa sulit dan mencapai kesuksesan.

Mencapai puncak karier sebagai pemegang posisi tertinggi di perusahaan bukanlah hal yang mudah. Selain dituntut untuk memiliki kemampuan pemimpin yang baik, pemimpina juga bertanggung jawab penuh terhadap perusahaan secara keseluruhan. Hal inilah yang sering menjadi hambatan besar bagi wanita untuk mencapai posisi puncak karena dianggap sangat beresiko. .Efektivitas pemimpin ditentukan oleh kemampuannya dalam mempengaruhi dan mengarahkan anggotanya dalam mencapai tujuan organisasi atau perusahaan.. Pada pandangan tradisional, wanita indentik dengan sosok yang lemah sedangkan pria dipandang sebagai sosok yang kuat sehingga dianggap jauh lebih cocok menjadi pemimpin.

            Pada perkembangannya yang menjadi fokus utama untuk menjadi seorang pemimpin di era globalisasi seperti saat ini adalah kompetensi dan performance sehingga gender tidak lagi menjadi faktor pembeda yang dominan. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Accurance dalam the-marketeers.com menyebutkan bahwa sekitar 60 persen responden di Indonesia berharap wanitalah yang pantas menjadi CEO atau jabatan lainnya pada tahun 2020. Hal ini dikarenakan keuletan pimpinan perusahaan merupakan kunci utama dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Hasil survey menunjukkan bahwa wanita lebih memiliki kemampuan itu dibandingkan pria.

            Hasil penelitian Shaskin&Shaskin (2011), dalam bukunya menyatakan bahwa dari 4000 CEO wanita dan CEO pria yang mengisi kuesioner The Leadership Profile (TLP) menemukan hanya sedikit perbedaan antara kepemimpinan transformasional CEO/Eksekutif pria dan wanita. Para CEO wanita cenderung menunjukkan rasa hormat dan kepedulian yang lebih besar terhadap orang lain sehingga pemimpin wanita bertindak secara berbeda dan lebih efektif daripada pria dalam memimpin. Hasil kajian Caliper yang tertulis di majalah Female 2013, yaitu ciri wanita yang memimpin dengan semangat kerja tim, pemimpin wanita yang hebat cenderung menerapkan gaya kepemimpinan secara komprehensif saat harus menyelesaikan masalah atau membuat keputusan. Mereka lebih fleksibel, penuh pertimbangan, dan membantu stafnya. Gibson (2000) mengemukakan bahwa sebagian besar perempuan memiliki dimensi perilaku yang cenderung memikirkan kesejahteraan bawahan dan lebih menekankan interaksi dan memfasilitasi bawahan. Kajian yang dilakukan oleh Sasmita&Raihan (2014) menyatakan bahwa walaupun ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan di antara pria dan wanita, namun keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan wanita dan pria merupakan hal yang saling mengisi. Pentingnya wanita mengubah mindsetdengan cara lebih menyadari bahwa dirinya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa menjadi seorang pemimpin di tempat bekerja.

            Berbagai hasil kajian dan penelitian mulai menunjukkan bahwa kepemimpinan pria dan wanita tidak menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Bahkan dalam beberapa aspek wanita lebih unggul dibandingkan pria dalam memimpin. Namun hingga kini perempuan yang menduduki posisi puncak masih sangat sedikit, hal ini diduga karena wanita banyak yang memilih berhenti berkarir saat mereka memutuskan untuk mengurus rumah tangga yang sudah menjadi kewajibannya.

Dinamika wanita karir di dunia professional menjadi suatu hal yang menarik untuk dikaji karena saat ini angkatan kerja antara pria dan wanita belum seimbang. Begitu sampai tingkat manajerial jumlahnya merosot menjadi 20%, dan hanya menyisakan 5% wanita saja di tingkatan CEO. Biasanya semakin tinggi posisi dalam organisasi, semakin sedikit pula wanita yang menjabatnya. Sangat sedikit wanita yang beruntung bisa mendapatkan kesempatan untuk mendaki ke posisi puncak organisasi dan menjadi sukses. Sementara itu, karena alasan keluarga dan fleksibilitas waktu, 72% wanita karier memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan, 40% di antaranya memutuskan keluar di awal karier (Sasmita dan Raihan, 2014). Padahal, wanita yang memegang posisi pemimpin di sebuah perusahaan mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

            Isu terkait gender dalam kepemimpinan perempuan menjadi hal yang banyak diperbincangkan. Tugas utama seorang wanita adalah mengurus kehidupan rumah tangganya (keluarga). Namun di sisi lain, seorang wanita berhak atas karir dan passionnya untuk mengembangkan diri sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara itu, karena alasan keluarga dan fleksibilitas waktu, 72% wanita karier memilih untuk berhenti bekerja. Bahkan, 40% di antaranya memutuskan keluar di awal karier (Sasmita dan Raihan, 2014). Faktanya, saat ini ada sekitar 5 persen wanita yang berhasil menjadi CEO dan mengembangkan perusahaan yang dijalankannya dengan sukses.

            Seorang wanita yang memutuskan untuk berkarir dan menjadi seorang pemimpin suatu perusahaan akan dihadapkan pada konflik peran ganda. Ketiga wanita hebat yang dipaparkan diatas, menjalani dua peran sekaligus yaitu sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai seorang ibu rumah tangga. Menurut Suryadi (2004) dikutip dari Diansari (2006), menjalankan dua peran sekaligus secara tidak langsung memberikan dampak baik bagi wanita itu sendiri maupun bagi lingkungan keluarganya. Wanita dengan peran ganda dituntut untuk berhasil dalam dua peran yang bertentangan. Di rumah mereka dituntut untuk berperan subordinat (memiliki kedudukan dibawah peran suami) dalam menunjang kebutuhan keluarga dengan mengurus suami dan anak namun di tempat kerja mereka dituntut untuk mampu bersikap mandiri dan dominan sebagai seorang pemimpin. Konflik peran ganda seorang wanita yang memutuskan untuk berkarir akan terselesaikan bila mendapat dukungan penuh dari keluarganya yang mengerti keinginannya sehingga dukungan keluarga menjadi critical success factor terpenting dalam pencapaian keberhasilan wanita menjadi pemimpin. Pernyataan ini selaras dengan hasil penelitian yang dikemukakan oleh Jones & Jones dikutip dari Apollo dan Cahyadi (2012) bahwa sikap suami merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan dual-career marriage. Ada suami yang merasa terancam, tersaingi dan cemburu dengan status pekerjaan istrinya, ada yang tidak menganggap pekerjaan istri menjadi masalah, selama istrinya tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan suami.

            Wanita bisa berhasil dalam memimpin saat bisa menyeimbangkan perannya sebagai seorang wanita karier dan seorang ibu rumah tangga. Saat ini kita sudah dapat melihat mulai banyaknya wanita yang berhasil meraih posisi puncak yang dapat menjadi bukti keberhasilannya dalam menjalankan peran gandanya dengan menempuh karier namun tetap memiliki waktu untuk keluarganya.

 

 

Daftar Pustaka

Apollo, Andi Cahyadi. 2012. Konflik Peran Ganda Perempuan Menikah yang Bekerja Ditinjau Dari Dukungan Sosial Keluarga dan Penyesuaian diri. Widya Warta. 1(02): 254-270.

Everina Diansari. 2006. Hubungan Antara Konflik Peran Ganda Pada Wanita dengan Aspirasi Karier [skripsi].Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Sashkin, Marshall, dan Molly G. shashkin. 2011. Prinsip-prinsip Kepemimpinan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Sasmita, Jumiati, dan Said Raihan.2014. Kepemimpinan Pria dan Wanita. Proceeding of The 6th NCFB and Doctoral Colloqium. Riau: Repository University of Riau. Hlm 225-239.



Read Post | Comment

How to Do a Job Interview on Skype

Galih Tristianni Labour 13-Sep-2015 12:33

Apakah teman-teman sedang mempersiapkan diri untuk wawancara pekerjaan atau pertukaran pelajar via Skype? Aku akan berbagi pengalamanku wawancara via Skype untuk menjawab semua pertanyaan kalian dan menghilangkan keraguan yang mungkin kalian miliki seputar wawancara. Aku akan berusaha menceritakan segala sesuatu yang perlu kalian ketahui berdasarkan pengalamanku - dari menghindari masalah teknis untuk mempersiapkannya sehingga kalian dapat memberikan yang terbaik selama wawancara.

DASAR

Hal-hal dasar yang perlu kalian perhatikan sebelum melakukan wawancara via Skype :

  1. Timezone

                Jika kalian akan diwawancarai oleh orang yang berbeda daerah pembagian waktu, kalian harus memperhatikan waktu. Jangan sampai kalian melewatkan waktu jadwal wawancara hanya karena kalian tidak memahami perbedaan daerah waktu.

  1. Identitas

                Perhatikan Identity Skype kalian yah, jangan sampai muncul ID sexyboy321 sangat tidak profesional, ubah jadi lebih baik ya gunakan nama kalian, misal namaku Galih Tristianni, ID yang baik galihtristianni

  1. Webcam

                Perhatikan posisi webcamnya ya, jadi posisinya jangan terlalu jauh dan jangan terlalu dekat dengan diri kamu, buat posisi yang sekiranya lawan kamu nyaman melihatnya.

  1. Lokasi

                Sebelum kamu memulai kegiatan ini, perhatikan juga sekeliling tempat kamu akan melakukan video interview, jangan sampai ada barang yang berantakan atau ada asbak dengan putung rokok yang masih menyala. Hal-hal yang tidak sepantasnya ditunjukkan, janganlah sampai terlihat, dapat berpengaruh terhadap penilaian diri kamu loh.

 

TEKNIK

  1. Sound check

                Biasanya di Skype itu ada tombol untuk kita test suara kita terdengar dengan jelas atau tidak oleh lawan. Gunakan ini untu mengetahui kualitas suara kamu jernih terdengar oleh lawan atau tidak, karena dalam menjawab pertanyaan lawan harus jelas, jika samar-samar akan menganggu kalian dan bisa jadi lawan kita hilang mood buat wawancara kita.

  1. Call a Friend

                Agar lebih pasti, mengenai teknis dalam melakukan interview via Skype, alangkah lebih baik mencoba menghubungi teman kalian untuk melakukan tes sederhana.

 

  1. Gunakan Headset

                Butuh dilakukan karena menurutku jika tanpa Headset suara yang keluar jadi pecah kurang jelas karena suaranya bercampur dengan suara yang ada di sekeliling kita. Sedangkan jika kita menggunakan Headset suara akan jelas tertuju langsung melalui telinga kita.

  1. Presentasi

                Kamu harus tentukan posisi seperti apa yang baik untuk kamu wawancara, duduk atau berdiri. Perhatikan pakaian kalian juga, rapi dan sopan diperlukan sekali. Satu lagi, gambar profil kalian yang rapi juga, jangan senonok. Usahakan jangan gerogi, karena ini berpengaruh terhadap suara kalian yang keluar. Persiapkan mainimal satu jam sebelum kalian wawancara agar semua menjadi siap.  Semoga bermanfaat.



Read Post | Comment

QUALITY IF WORKLIFE

Graceta - @grctpepe Human Resources 13-Sep-2015 12:07

Sebagai generasi muda penerus bangsa diharapkan mampu membangun bangsa ini di saat ini dan di masa yang akan datang, mahasiswa harus melewati masa-masa perkuliahan yang selalu dihiasi dengan modul kuliah, presentasi, jadwal rapat dan juga tugas-tugas yang seakan tiada henti untuk diselesaikan. Memang salah satu kewajiban dasar mahasiswa adalah belajar agar ilmu yang diajarkan oleh dosen dapat dipahami dan diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Namun masa-masa kuliah yang hanya dilalui dengan kegiatan-kegaiatan yang bersifat mainstream seperti belajar dan rapat akan membuat masa-masa kuliah menjadi kaku dan kurang berwarna.

                Blogging

                Yup, yang pertama adalah blogging. Menulis merupakan salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa, mengingat salah satu persyaratan paling dasar agar mahasiswa dinyatakan lulus adalah mahasiswa harus membuat skripsi (yang lagi ngerjain skripsi semangat yaa!).

                Nah, salah satu hobi yang erat kaitannya dengan dunia tulis menulis (lebih tepat ngetik sih^^) adalah menulis melalui media micro site/blog atau dalam bahasa canggihnya juga disebut dengan istilah nge-blog, yakni suatu kegiatan menyenangkan dalam menyampaikan pemikiran, curhatan, uneg-uneg, komentar, reportase, review produk dan tempat atau sharing pengalaman yang dituangkan dalam media blog dan memberi kesempatan bagi publik untuk mengaksesnya dari seluruh penjuru dunia. Bahasa kerennya sih, “salah satu cara narsis yang lebih intelek.” (^^)

                Setelah HR Clinic Team Melakukan Real Direct Googling di lingkungan kampus kita tercinta, ternyata salah seorang mahasiswi kita yang bernama Nur Kardina Massijaya atau Ina (Manajemen FEM IPB angkatan 48) mempunyai hobi blogging sejak Kuliah Tingkat satu.

                Menurut "dara manis" yang akrab disapa Ina ini, (pernyataan dara manis ini request dari nara sumber!) tulisan-tulisan yang dihasilkannya seringkali membahas tentang proyeksi seseorang terhadap dirinya dimasa yang akan datang dengan judul "Doa Kedok Ramal". Selain Itu, Ina juga sering menyajikan cerita bersambung, ulasan cita-cita, hingga pandangannya terhadap suatu hal.

Menurut mahasiswi yang juga memiliki hobi fotografi ini, menuangkan pemikiran,pandangan mapun ide melalui media blog dapat membuatnya menjadi lebih objektif dalam bersikap dan bertindak dalam rangka mengarungi kehidupan kampus yang seringkali memunculkan drama dan romantika khas kehidupan kampus. Karena dengan belajar nge-blog, Ina dapat belajar memandang suatu permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.

                Selain itu dengan menulis di media blog juga dapat membantu Ina menghilangkan penat dan kejenuhan yang timbul karena rutinitas perkuliahan.

Tampilan blog milik Ina, dinamssijaya.tumblr.com 

                Dalam rutinitas kuliah yang amat menyita waktu, ina setidakknya menyempatkan waktu satu kali dalam sebulan untuk "menghiasi" blog miliknya. Penasaran? silakan lihat sendiri blog milik ini di dinamssijaya.tumblr.com. So,let's be Blogger.

                Fotografi   

                Seringkali kita melihat mahasiswa atau mahasiswi membawa kamera kemanapun mereka pergi, seakan-akan kamera yang mereka bawa adalah salah satu bagian tubuh mereka. Objek yang unik dan menarik menjadi buruan para fotografer muda ini. Mereka juga bisa kita sebut mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki hobi fotografi.  Yup, seni fotografi adalah salah satu hobi yang banyak digandrungi oleh para mahasiswa di seluruh dunia. Berbagai macam komunitas dan aliran juga terdapat dalam seni mengabadikan momen ini, dan tidak sedikit pula karya-karya yang mereka hasilkan dapat merubah dunia dan menjadi suatu entitas akan jejak kebudayaan dari suatu masa.

                Dikarenakan ini majalahnya anak Mahasiswa IPB, maka secara logis dan proposional mutlak maka kita juga akan membahas Seni Fotografi ini melalui ungkapan “mata lensa” mahasiswa Departemen FEM IPB. Mahasiswa yang beruntung untuk kita telisik mengenai pengalamannya di dunia fotografi adalah Mahsiswa FEM IPB angkatan 48 yang memiliki nama lengkap Ahmad Haris Wijaya.     Ahmad mulai tertarik dengan dunia fotografi sejak kelas 3 sekolah dasar (wow!). Pada waktu itu sering meminjam kamera milik pamannya untuk mengabadikan momen disekitarnya secara iseng.      Ahmad lalu mulai benar-benar menekuni hobi  fotografi pada semester 3, dimana waktu itu Ahmad telah memiliki kamera sendiri. Ketertarikan Ahmad pada dunia fotografi diakuinya diawali  atas dasar kecintaannya pada seni visual, dimana fotografi termasuk salah satu bentuk seni visual.

                Ahmad lalu mulai benar-benar menekuni hobi  fotografi pada semester 3, dimana waktu itu Ahmad telah memiliki kamera sendiri. Ketertarikan Ahmad pada dunia fotografi diakuinya diawali  atas dasar kecintaannya pada seni visual, dimana fotografi termasuk salah satu bentuk seni visual.              Objek yang menjadi favorit yang juga pemilik sebuah brand clothing ini adalah produk-produk dan pemandangan alam (landscape). Untuk mendapatkan objek foto yang diinginkannya, Ahmad seringkali menyempatkan waktu untuk hunting objek ke berbagai tempat, seperti pusat kota maupun tempat-tempat alam.

Salah satu hasil foto karya Ahmad

                Menurut mahasiswa asal Kediri ini, hobi yang dijalaninya tersebut sama sekali tidak mengganggu kegiatan kuliahnya, justru mampu menciptakan suatu rasa puas ketika objek yang diinginkannya dapat dibidik lewat lensa kamera miliknya.

                              



Read Post | Comment

 Archive


   Magazine


   Contact Us