Indonesia Human Resource Institute Tantangan Dalam Dunia Human Resource

admin Organization Development 20-May-2017 02:02

Yunus Triyonggo
Founder & Ketua Umum
IndHRI

HR atau HRD merupakan bagian terpenting yang berpengaruh terhadap kelangsungan hidup perusahaan.Oleh karena itu, beberapa perusahaan menganggap bahwa HR adalah nyawa bagi perusahaan. Pada dunia kerja, HR memiliki tugas dalam proses rekrutmen atau pencarian tenaga kerja. HR juga bertanggung jawab penuh dalam mengelola dan menggali kemampuan dari setiap tenaga kerja yang ada, serta mengembangkan potensi para tenaga kerja dan juga memberikan pelatihan-pelatihan atau trainning mengenai kepemimpian dan keterampilan lain dalam dunia kerja.

1. Apa yang membuat Pak Yunus tertarik berkarir di dunia HR?
Hahaha… sudah terlanjur masuk sih. Kebetulan HR sesuai dengan style dan strength saya. Intinya bekerja di HR itu penuh dinamika dan peluang untuk berbuat lebih banyak kebaikan untuk orang lain. Tidak mudah menjalankan peran di HR, dibutuhkan kesabaran dan keahlian khusus tentang kompetensi praktisi Manajemen SDM.

2. Tantangan apa saja yang ada selama Pak Yunus berkarir sebagai praktisi HR?
Wah, sangat banyak dan dinamis. Yang jelas, mengatur orang lebih rumit dibanding mengatur benda mati seperti menjual produk, mengoperasikan mesin, dan lain-lain. Membangun kapabilitas organisasi merupakan long journey lengkap dengan tantangan sesuai jamannya dan ambisi bisnisnya. Membangun kapabilitas kepemimpinan dalam organisasi juga tidak kalah serunya. Dan mengelola perubahan dalam organisasi yang dinamis juga seru.

3. Apa pengalaman yang paling berkesan selama berkarir di dunia HR?
Mengembangkan kapabilitas orang hingga mereka menduduki posisi strategis di perusahaan merupakan

kepuasan tersendiri walaupun jalannya tidak selalu mulus. Membangun suasana kerja yang kondusif juga tidak kalah menantang. Termasuk menjaga suasana kerja yang kondusif dan memberikan tantangan kerja yg membuat orang termotivasi dalam meraih ambisi tertentu juga perlu kerja keras dalam jangka panjang.

4. Menurut Pak Yunus, mengapa harus mendalami dunia HR?
Dunia HR menjadi poros utama organisasi untuk menjamin keberlangsungannya, mencapai target dan mimpi-mimpinya. Memastikan SDM yang kompeten di bidang masing-masing membutuhkan keberpihakan semua manajer lini secara jangka panjang. Menumbuhkan kepedulian akan pentingnya people dalam organisasi merupakan tantangan yang besar untuk dipecahkan.

5. Apa itu IndHRI dan apa saja aktivitasnya? Apakah ada aktivitas atau program yang melibatkan mahasiswa?
IndHRI (Indonesia Human Resources Institute) adalah Lembaga Diklat Profesi (LDP) yang mengkhususkan pada pengembangan kompetensi praktisi Manajemen SDM di seluruh wilayah Indonesia. IndHRI berisikan orang-orang yang pernah menjadi anggota Tim Perumus Standar 

Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) bidang Manajemen SDM yang berkeinginan untuk melakukan percepatan penerapan SKKNI MSDM melalui penyusunan Modul Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan menjalankan pelatihan bagi praktisi Manajemen SDM.
Tahun ini IndHRI masuk ke kampus untuk menawarkan program-program pelatihan soft competency serta persiapan masuk ke dunia kerja. IndHRI juga akan memperkenalkan Manajemen SDM sejak dini di kalangan Mahasiswa agar dapat menumbuh-kembangkan minat lulusan PT dalam berkarir di bidang HR.

6. Dalam menghadapi persaingan di dunia kerja, apa saja yang dibutuhkan mahasiswa?
Sebenarnya selama perkuliahan di kampus, para mahasiswa sudah ditempa dengan nuansa disiplin, ilmu pengetahuan, serta bagaimana berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, saya yakin mereka sudah sangat siap untuk masuk ke dunia kerja setelah melalui masa orientasi dan program training tertentu untuk membantu lulusan baru beradaptasi secara efektif di tempat kerja. Adapun hal-hal menonjol yang diperlukan agar sukses adalah aspek interpersonal skill, leadership, curiosity, willingness to learn, teamwork, dan can do mentality.

7. Apa kiat dan tips dari Pak Yunus untuk generasi millennials yang ingin berkarir di dunia HR?
Generasi millenials memiliki ciri-ciri inginnya instant, cenderung kurang loyal, sangat digital-minded, bekerja sangat cepat, lebih ingin cari pengalaman. dan setelahnya cenderung ingin menjalankan bisnis sendiri. Manajemen SDM menurut saya sangat seksi untuk digeluti millenials karena pendekatan-pendekatan yg diterapkan dalam MSDM sangat terbuka untuk hal-hal yang inovatif dan perlu surprise yang bikin wow orang lain. Pengembangan talent merupakan peluang terbuka bagi millenials untuk berimprovisasi dan mengeluarkan idenya.
Jadi menurut saya pekerjaan-pekerjaan di dunia HR sangat sesuai dengan karakter millennials, tergantung pada cara bagaimana kita mengemasnya.



Read Post | Comment

Pekerja Generasi Millenial Lebih Dari Sekedar “Award”

admin Labour 20-May-2017 01:58

 

 

Generasi Millenials /generasi saat ini merupakan generasi yang bisa dikatakan sebagai generasi yang jumlah populasinya semakin meningkat di bidang tenaga kerja.
Data menunjukkan bahwa 53,5juta pekerja yang merupakan generasi Millenials meingkat cukup signifikan. Meningkatnya jumlah tenaga kerja Millenials tentunya berpengaruh terhadap persepsi baru akan dunia kerja itu seharusnya dan bagaimana hubungan antar karyawan secara struktural. Ada beberapa hal yang yang harus diketahui mengenai generasi ini, terkait dengan pembentukkan lingkungan kerja yang nyaman bagi Millenial.
Generasi Millenial merupakan sosok yang sangat ingin berkembang. Generasi ini berbeda dengan generasi X ataupun baby boomers, terutama berkenaan dengan masa jabatan. Masa jabatan generasi X rata-rata sekitar 5 tahun, sedangkan masa jabatan baby boomers rata-rata mencapai 7 tahun. Berbeda dengan keduanya, generasi Millenial hanya memiliki rata-rata masa jabatan sebesar 2 tahun, dan hal tersebut bahkan terlihat sulit bagi mereka untuk bertahan. Mengapa demikian?

 

Para Millenial memiliki pemikiran bahwa mereka tidak akan bertahan pada suat perusahaan atau lingkungan kerja, jika lingkungan tersebut tidak mendukung perkembangan dirinya secara personal. Mereka akan cenderung memiliki untuk mengganti pekerjaannya. Mereka akan mencari berbagai kesempatan yang mampu membawa mereka ke level yang lebih atas dari pekerjaannya. Terlebih, generasi ini tumbuh di zaman global yang sangat didukung oleh berbagai sumber teknologi dan informasi. Hal tersebut tentunya sangat membantu mereka untuk mendapatkan berbagai informasi untuk mengatasai berbagai permasalahan yang dihadapinya dengan pemikiran yang kritis, termasuk permasalahan pekerjaan.
Kecerdasan dan ketanggapannya terhadap dunia luar melalui teknologi dan informasi yang tersedia, membuat mereka hanya perlu untuk memiliki atasan yang berperan sebagai seorang pelatih, bukan bos. Dalam mencapai tujuannya untuk berkembang, maka generasi ini membutuhkan lebih dari sekedar dipimpin dan diperintah. Mereka akan berani untuk mengambil resiko, bahkan jika mereka harus kehilangan pekerjaanya, hanya karena perilaku atasannya yang cenderung seperti bos bukan pelatih. Itulah mengapa, mereka dikenal sebagai generasi yang tidak loyal terhadap pekerjaannya. (mei)



Read Post | Comment

Sistem Cerdas OD Sebagai Pembaharu Gen Millenials

admin Organization Development 20-May-2017 01:56

 

Siapa yang tak mengenal generasi Millenials atau yang biasa disebut dengan generasi Y ? Pasalnya, Generasi ini kini menjadi perbincangan banyak kalangan di era sekarang dalam berbagai bidang. Hal ini dikarenakan gen millenials yang mempunyai sifat unik daripada gen sebelumnya yaitu gen X yang lahir pada rentang tahun 1965 – 1980. Menurut peneliti sosial, generasi Millenials atau generasi Y merupakan generasi yang lahir diantara tahun 1980 an sampai 2000 an, jadi bisa dikatakan rentang usia generasi ini berada dikisaran 15 – 34 tahun. Dimana ungkapan generasi Y mulai dipakai pada editorial koran besar Amerika Serikat pada Agustus 1993. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti Facebook dan Twitter. 

Organization Development (OD) yang merupakan suatu praktek dalam pengembangan kemampuan dalam mencapai efektivitas dalam suatu organisasi mempunyai peran penting bagi pengendalian generasi millenials atau generasi Y ini, agar mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya untuk mencapai suatu keberhasilan hidup dalam dunia organisasi. Terdapat empat siasat cerdas yang dapat digunakan dalam program OD ini sebagai agen perubahan atau pengendalian, antara lain :


1. Tinggalkan peraturan yang terlalu mengekang
Generasi Millenials adalah generasi yang tidak suka dengan peraturan yang mengikat dan dianggap tidak mengikuti perkembangan jaman. Generasi ini lebih suka dengan peraturan yang menurut mereka dapat secara fleksibel dijalankan. Hal ini dikarenakan kehidupan mereka yang tidak lepas dengan media-media elektronik terutama gadget yang membuat mereka berperilaku serba instan sehingga mereka tidak suka dengan hal-hal yang dianggap rumit. Oleh karena itu alangkah lebih baiknya kalau organisasi jangan terlalu mengekang mereka dalam membuat peraturan.


2. Memberikan edukasi
Dalam menunjang peranan generasi millenials di dunia organisasi perlu diadakannya edukasi. Hal ini bertujuan untuk memberikan pengertian kepada mereka terkait hal-hal yang seharusnya mereka kerjakan dan upayakan.Karena pada dasarnya generasi millenials ini hidup untuk mencapai apa yang mereka senangi saja saat ini bahkan mereka cenderung kurang memikirkan dampak masa depan yang dapat mereka tanggung dari perbuatan yang mereka lakukan. Oleh karena itu dengan adanya edukasi diharapkan mereka sedikit lebih mampu mengendalikan dirinya untuk menyesuaikan dirinya baik untuk lingkungannya maupun dengan orang-orang disekitarnya.

3. Memberikan Tantangan
Berbeda dengan generasi X yang bekerja sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan, generasi Y ini bekerja menurut seberapa besar tantangan yang akan dihadapinya. Semakin besar tantangannya, semakin timbul rasa ketertarikannya. Dengan adanya tantangan mereka cenderung akan lebih berdedikasi dalam menjalankan pekerjaannya. Oleh karena itu setiap organisasi harusnya memahami hal ini sebagai salah satu langkah dalam mengembangkan kemampuan generasi millenials.

4. Memperbarui Teknologi
Kecanggihan teknologi merupakan sesuatu hal yang tidak bisa lepas dari generasi millenials. Mereka hidup sangat bergantung dengan teknologi. Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi suatu organisasi, karena mau tidak mau organisasi harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Jika tidak, organisasi akan menjadi terisolir dan dianggap tidak mampu mengikuti perkembangan jaman. Dengan adanya teknologi pendukung generasi millenials akan lebih bekerja dengan baik dan kinerja yang cenderung cepat. (NDA/SK)

 



Read Post | Comment

Digital Branding Cara Ampuh Rekrut Generasi Millenial

meilisa andini Human Resources 20-May-2017 01:52

Generasi Millenials diprediksi akan menguasai angkatan kerja pada tahun 2020 mendatang. Hal tersebut akan berdampak pula pada sistem rekrutmen yang harus dilakukan oleh berbagai perusahaan dalam menarik para millenial. Terlebih, Millenial memiliki hasrat untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih, dibandingkan dengan generasi X maupun Baby Boomers. Penelitian membuktikan bahwa millenial cenderung memanfaatkan media sosial dalam mencari karier nya.
Menurut Frank Koo, perusahaan atau perekrut harus mampu menjemput para millenial yang berpotensi melalui networking online. Millenial memanfaatkan dunia internet juga untuk membangun jaringan profesional dan menampilkan kemampuan, pengalaman, serta prestasi profesionalnya ke dunia luar, atau dengan kata lain bagi mereka “internet untuk pengembangan karir”. Salah satu media di internet yang digunakan millenial dalam mencari pekerjaan ialah melalui Linked-in.

Melihat karakteristik Millenial yang demikian, perekrut harus mampu melakukan branding yang luar biasa, melalui digital branding.
Digital branding ini dipercaya mampu menarik para millenial, karena dunia digital kini dimanfaatkan tak hanya sebagai wadah untuk membangun relasi sosial, namun juga sebagai sumber informasi. Adanya hal seperti itu tentunya akan membantu millenial untuk mengenali perusahaan lebih dalam dan berpeluang untuk menemukan nilai yang membuat mereka tertarik akan perusahaan tersebut.
Karakteristik generasi Millenial yang seperti itu juga mendorong perusahaan tidak hanya menggunakan strategi digital branding, namun juga mampu membentuk pencitraan perusahaan. Pencitraan tersebut bertujuan untuk membedakan perusahaan yang satu dengan lainnya. Keunikan yang dimiliki perusahaan akan menggugah generasi millenial untuk bergabung di perusahaan tersebut. Tentunya keunikan yang dibangun oleh perusahaan tetap harus beriringan dengan digital branding yang dilakukan. (MA/SK)



Read Post | Comment

 Archive


   Magazine


   Contact Us